Pencari Karir Pencari Kandidat

Tips Membaca & Membuat Kontrak Bisnis Antara Buyer & Supplier

31 Maret 2021 18:03 3053 KALI DIBACA 0 KOMENTAR 1 KALI DIBAGIKAN

Pada dasarnya kegiatan suplai barang/pengadaan barang baik secara berkelanjutan maupun dalam sekali pasok masuk ke dalam aktivitas jual beli, sama halnya dengan transaksi jual beli barang pada umumnya.

 

Dilihat dari kacamata hukum, kegiatan jual beli barang maupun jasa adalah sebuah perjanjian. Perjanjian itu mengatur pihak penjual berkewajiban menyerahkan barang dan pihak pembeli berkewajiban menyerahkan harga barang/jasanya.

 

Begitupun dengan kegiatan suplai barang dalam sebuah usaha, karena melibatkan transaksi yang besar, sebelum melakukan kontrak/kerja sama, harus memastikan berbagai aspek mulai dari kuantitas, kualitas, sampai kontinuitas.

 

Untuk membantu UMKM membaca dan membuat kontrak/perjanjian bisnis, Rabu 3/31/2021 kemarin, APINDO UMKM AKADEMI kembali mengadakan webinar dengan tema Tips Membaca & Membuat Kontrak Bisnis antara Buyer & Supplier. Narasumber yang hadir yakni  Louis Patricia seorang Praktisi Hukum di Socolas Indonesia.

 

Socolas Indonesia adalah komunitas berbasis volunter dan jejaring yang bertujuan membuka akses pemberian informasi dan pengetahuan hukum korporasi untuk usaha sosial, UMKM di pelosok daerah yang tidak memiliki akses pengetahuan hukum korporasi, dan inisiatif sosial.

 

Louis Patricia menjelaskan bahwa kontrak dianggap sebagai hukum oleh pihak yang terikat/menandatangani, jika berbicara mengenai hukum sebenarnya kita berbicara tentang resiko. Resiko mungkin tidak dialami saat ini, namun bisa jadi di kemudian hari. Mengetahui dan membedah kontrak merupakan step awal sebagai upaya mengantisipasi/memitigasi potensi resiko.

 

Ketika melakukan hubungan kontrak dengan rekan bisnis, konsekuensi hukumnya bisa biaya berupa penalti, penanganan perkara, konsultan, waktu & energi. Resiko kedua terkait dengan reputasi. Ketiga yaitu hilangnya kesempatan.

 

Setiap pihak bebas melakukan kontrak, mulai dari membuat atau tidak membuat kontrak, menentukan isi kontrak, bentuk kontrak, dan mengadakan kontrak dengan siapapun. Namun, Louis menegaskan bahwa kebebasan itu tetap dibatasi ketentuan hukum dan perundang-undangan.

 

“Walaupun punya kebebasan berkontrak, kalau pelaku usaha tidak mengetahui hukum yang berlaku, kontrak tidak efektif atau konsekuensinya menjadi tidak sah, karena itu kita harus aware dengan hukum” jelas Louis Patricia.

 

Louis Patricia juga menanggapi pertanyaan yang sering muncul tentang perbedaan MoU dan kontrak. MoU merupakan perjanjian pendahuluan, yang mengatur hal-hal yang normatif di awal dan biasanya bersifat sementara. Kalau sudah memuat konsekuensi hukum bagi para pihak secara sederhana MoU dapat dikategorikan perjanjian/kontrak.

 

Louis menekankan teman-teman UMKM untuk  melihat substansi dari sebuah dokumen dibanding fokus dengan judul yang tertera.

 

Webinar APINDO UMKM AKADEMI dengan tema Tips Membaca & Membuat Kontrak Bisnis antara Buyer & Supplier dapat Anda saksikan siaran lengkapnya di sini.

 

APINDO UMKM AKADEMI rutin mengadakan webinar kewirausahaan gratis setiap hari Rabu dengan menghadirkan pembicara-pembicara inspiratif di dunia bisnis untuk berbagi pengalamannya.

 

Di episode-episode selanjutnya APINDO UMKM AKADEMI akan menghadirkan narasumber lain dan mengangkat tema yang tidak kalah menarik guna menambah wawasan pelaku UMKM untuk bisa maju dan naik kelas.

 

Daftarkan diri Anda di link berikut ini www.topkarir.com/kewirausahaan, dapatkan informasi eksklusif seputar webinar dan program UMKM lainnya yang bermanfaat untuk kemajuan bisnis Anda. Karena sekarang saatnya #UMKMNaikKelas.

Artikel Terkait
Lihat Selengkapnya
Tips Membangun Bisnis Berbasis Teknologi

Tips Membangun Bisnis Berbasis Teknologi

Apa kamu punya keinginan untuk membangun bisnis berbasis teknologi? Sebelum memulai mewujudkan keinginan tersebut, ada baiknya kamu tau enam tips penting ini. Apa aja ya?   Jadi 'trendsetter Banyak anak muda kurang berani dan hanya ikut arus yang sudah ada. Soal era industri 4.0 bukan hanya soal big data, AI atau robotic aja, justru tantangan utama adalah berani menciptakan solusi dan berani mengeksekusi ide.   Efisiensi Salah satu hal yang kurang dipersiapkan dunia pendidikan kita adalah melatih soft skill untuk menghadapi kehidupan nyata. Padahal soft skill seperti kemampuan untuk bekerjasama, berkolaborasi, mempresentasikan dan mengomunikasikan ide sangat penting dan harus terus ditingkatkan agar efisiensi kerja tercapai.   Berkelanjutan Anak muda saat ini cenderung mudah menyerah sehingga apa yang dilakukan seringkali engga tuntas. Membangun bisnis berbasis teknologi bukanlah sebuah perlombaan lari sprint tetapi justru lari maraton yang membutuhkan stamina, kesabaran, ketekunan dan kegigihan jangka panjang.   Kolaborasi Gagasan Membawa STEM ke dalam bisnis dapat dilakukan dengan melakukan kolaborasi ide-ide. Saat ini bisnis engga bisa berjalan tanpa teknologi dan sebaliknya teknologi engga bisa berkelanjutan tanpa bisnis yang baik.   Memperluas spektrum Di Indonesia, bisnis yang berkembang memiliki spektrum luas, mulai dari bisnis teknologi 4.0 sampai industri 1.0. Ada banyak industri rempah, budaya, hasil bumi seperti kopi yang juga perlu juga dikembangkan secara keilmuan dan juga bisnis. Kita tetap mengejar bisnis berbasis teknologi tinggi untuk masa depan tetapi juga engga lupa untuk mengilmukan bisnis-bisnis tradisional.   Kemampuan organisasi Salah satu hal yang perlu ditingkatkan oleh kita adalah kemampuan organisasi, karena saat mendapatkan modal besar, banyak dari kita kemudian gagap bagaimana melakukan organization scaling dan organization excellent. Masih banyak anak muda yang belum siap dalam membesarkan dan mengatur unit bisnis secara baik.   Nah, saatnya kamu terapkan enam tips ini supaya bisnis berbasis teknologi yang kamu impikan bisa tercapai dengan baik! Yuk temukan tips lainnya di aplikasi TopKarir. Semangat Sahabat TopKarir!
Komentar